BRIN mengungkap penyebab pergerakan tanah (tanah gerak) di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, menyebut adanya bekas longsoran purba.
Bencana tanah gerak yang terjadi di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, belum usai menjadi perhatian publik. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui ahli geologi memberikan penjelasan tentang akar peristiwa ini. Hasil kajian terbaru menunjukkan bahwa fenomena tidak sekadar akibat hujan deras.
Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Biang Bencana.
Fenomena Tanah Gerak di Tegal
Tanah gerak di Tegal mulai terjadi setelah hujan lebat yang berlangsung lebih dari tiga hari secara berturut-turut. Curah hujan ekstrem ini menjadi pemicu langsung pergerakan massa tanah di desa tersebut. Meski begitu, fenomena tersebut bukan sekadar respons terhadap hujan saja, melainkan dipengaruhi kondisi bawah permukaan yang lebih kompleks.
Para ahli mencatat bahwa hujan yang mengguyur wilayah tersebut membuat tanah menjadi sangat jenuh, sehingga memicu turunnya stabilitas tanah. Dampak yang dirasakan warga sangat nyata: rumah retak, jalan rusak, dan sejumlah fasilitas umum terganggu karena tanah bergeser secara signifikan. Pemerintah setempat pun menetapkan zona merah di beberapa titik karena ancaman keselamatan bagi masyarakat.
Sebelum peristiwa terbaru, area ini pernah mengalami tanah gerak pada 2022, meski skala dampaknya jauh lebih kecil. Hal ini menjadi indikasi bahwa kondisi geologis di wilayah Padasari memang rentan terhadap pergerakan ketika faktor pemicu seperti hujan ekstrem hadir.
Penjelasan BRIN Faktor Penyebab Utama
BRIN menegaskan bahwa faktor geologi menjadi penyebab utama terjadinya tanah gerak di wilayah Tegal. Menurut Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Adrin Tohari, jenis batuan yang mendominasi lokasi itu adalah batu lempung dari formasi Halang di atas formasi Rambatan yang sangat rentan terhadap air. Ketika terkena air hujan dalam jumlah besar, kekuatan batuan ini menurun drastis dan bisa “berubah dari batu menjadi seperti bubur“.
Batuan ini berada dekat permukaan tanah dan langsung terekspos oleh air hujan. Akibatnya, ketika musim hujan tiba, air infiltrasi dengan mudah ke struktur tanah, menurunkan kohesi mineral penyusun tanah dan memicu terjadinya pergerakan. Proses ini menunjukkan bagaimana kondisi geologi berperan besar dalam memicu kegagalan lereng di beberapa lokasi.
Selain itu, kondisi tanah di daerah tersebut juga memperlihatkan bahwa struktur lapisan bawah tanah memiliki kecenderungan untuk mengalami perubahan bentuk atau revisi saat mendapat tekanan dari dalam maupun dari atas, seperti air hujan yang terakumulasi. Hal ini bukan hanya masalah sementara, tetapi sesuatu yang berulang ketika hujan ekstrem kembali terjadi.
Baca Juga: Desakan Pencabutan Izin Tambang, Bukti Kerusakan Lingkungan di Halmahera Timur!
Hipotesis Longsoran Purba
Pernyataan yang paling menarik dari BRIN adalah hipotesis adanya bekas longsoran purba di lokasi kejadian. Adrin menjelaskan bahwa di bawah permukaan tanah Padasari terdapat bidang longsor lama yang kini kembali bergerak aktif akibat curah hujan tinggi. Dengan kata lain, lereng ini mungkin sudah pernah mengalami pergerakan tanah puluhan atau ratusan tahun lalu kemudian menjadi “tertidur” dan kini kembali aktif karena kondisi eksternal yang tepat.
Hipotesis ini didukung oleh fakta bahwa pergerakan tanah di wilayah tersebut bukan hal yang sepenuhnya baru, tetapi sudah menunjukkan tanda-tanda kelemahan struktur geologi sebelumnya. Ketika hujan ekstrem terjadi, titik-titik bekas kegagalan lama inilah yang paling mudah “bangun” kembali dan menyebabkan pergerakan tanah lebih luas.
Pemahaman mengenai longsoran purba ini penting untuk mitigasi bencana di masa mendatang, karena bukan hanya hujan deras yang harus diwaspadai, tetapi juga sejarah geologi permukaan tanah yang bisa menjadi indikator risiko.
Dampak dan Kondisi Warga Terdampak
Dampak tanah gerak di Desa Padasari tidak ringan. Sebanyak 863 rumah masuk dalam zona merah rawan dan harus direlokasi karena risiko tanah bergerak masih sangat tinggi. Dari 863 rumah itu, lebih dari 400 mengalami kerusakan berat dan puluhan lainnya rusak sedang hingga ringan. Ribuan jiwa warga pun telah mengungsi ke tempat yang lebih aman sambil menunggu langkah lanjutan pemerintah.
Selain itu, pemerintah provinsi telah menyiapkan rencana relokasi dan hunian sementara untuk warga yang kehilangan tempat tinggal. Langkah ini menjadi prioritas mengingat aktivitas tanah bergerak masih mungkin terjadi kembali selama musim hujan berlangsung.
Wakil Presiden juga meninjau lokasi terdampak untuk memastikan keselamatan warga serta meminta masyarakat tidak kembali ke rumah mereka sebelum dinyatakan aman oleh ahli geologi dan pihak berwenang. Langkah ini memperkuat kesadaran bahwa bencana tanah gerak bisa berulang jika kondisi lingkungan tidak stabil.
Belajar Dari Kasus Tegal
Kasus tanah gerak di Tegal menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya memahami kondisi geologi lokal dalam menangani risiko bencana. Meski hujan lebat sering dilihat sebagai pemicu utama, faktor internal seperti struktur batuan dan bekas longsoran lama menjadi bagian tak terpisahkan dari penyebab terjadinya pergerakan tanah.
Ke depan, analisis seperti ini bisa membantu pemerintah daerah dan nasional dalam merancang sistem mitigasi yang lebih efektif. Mitigasi tidak hanya perlu fokus pada peringatan dini hujan ekstrem, tetapi juga pemetaan geologi dan sejarah longsoran di setiap wilayah rawan.
Kesadaran masyarakat terhadap risiko juga perlu ditingkatkan agar warga lebih siap menghadapi kejadian serupa di masa depan. Dengan kombinasi penelitian ilmiah dan kebijakan yang tepat, potensi kerusakan akibat bencana tanah gerak dapat diminimalkan secara signifikan.
Sumber Gambar:
- Gambar pertama dari Kompas.com
- Gambar kedua dari Kompas.com