Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari kumparan.com
Narasi yang menyebut perkebunan kelapa sawit sebagai penyebab utama banjir kembali mencuat seiring meningkatnya kejadian banjir di sejumlah wilayah Indonesia.
Isu ini ramai diperbincangkan di media sosial, forum publik, hingga diskursus kebijakan, seolah-olah sawit menjadi satu-satunya faktor yang bertanggung jawab atas bencana hidrometeorologi tersebut.
Padahal, menurut kalangan akademisi, penyederhanaan masalah semacam ini justru berpotensi menyesatkan publik dan mengaburkan akar persoalan yang lebih kompleks.
Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Biang Bencana.
Pakar lingkungan dan tata air dari IPB menegaskan bahwa banjir tidak bisa dilepaskan dari perubahan tata guna lahan secara keseluruhan, baik untuk permukiman, infrastruktur, pertambangan, maupun pertanian.
Sawit hanyalah salah satu bentuk penggunaan lahan, dan dampaknya terhadap hidrologi sangat bergantung pada cara pengelolaan dan kepatuhan terhadap aturan lingkungan.
Menurut IPB, kebun sawit yang dikelola sesuai kaidah konservasi justru dapat berfungsi sebagai penahan limpasan air jika dibandingkan dengan lahan terbuka tanpa vegetasi.
Sistem drainase, tutupan tanah, dan praktik konservasi menjadi faktor kunci. Oleh karena itu, IPB meminta publik untuk tidak serta-merta mengaitkan sawit dengan banjir tanpa melihat konteks ilmiah dan data lapangan yang menyeluruh.
IPB menilai akar persoalan banjir di banyak daerah justru terletak pada rusaknya tata kelola daerah aliran sungai.
Penyempitan sungai, sedimentasi tinggi akibat erosi, alih fungsi kawasan resapan air. Serta pembangunan di sempadan sungai menjadi penyumbang utama meningkatnya risiko banjir.
Dalam banyak kasus, wilayah yang terdampak banjir tidak seluruhnya berada di kawasan perkebunan sawit.
Kesalahan persepsi publik sering muncul akibat informasi yang dipotong-potong dan tidak disertai penjelasan ilmiah.
Ketika sawit langsung dituding sebagai biang banjir, perhatian publik bisa teralihkan dari persoalan struktural seperti lemahnya penegakan hukum tata ruang dan buruknya perencanaan wilayah.
IPB mengingatkan bahwa narasi keliru ini berbahaya karena dapat menghasilkan kebijakan yang salah sasaran.
Baca Juga: Terungkap! 27 Perusahaan Diduga Jadi Dalang Banjir Sumatera
IPB juga menyoroti bahwa penggiringan opini yang terus-menerus menyalahkan sawit dapat berdampak luas, tidak hanya pada aspek lingkungan tetapi juga sosial dan ekonomi.
Sawit merupakan salah satu sektor strategis yang menyerap jutaan tenaga kerja dan menjadi sumber penghidupan bagi petani kecil di berbagai daerah.
Ketika narasi negatif berkembang tanpa dasar ilmiah yang kuat. Petani sawit swadaya menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.
Selain itu, citra sawit Indonesia di mata global juga berpotensi tergerus jika narasi yang berkembang tidak diluruskan dengan data dan kajian akademik.
IPB menilai kritik terhadap sawit tetap diperlukan. Terutama terhadap praktik yang merusak lingkungan, namun harus dibedakan antara pengelolaan yang salah dan komoditasnya itu sendiri. Tanpa pembedaan tersebut, diskursus publik berisiko kehilangan objektivitas.
Terus update dirimu dengan informasi menarik setiap hari, eksklusif dan terpercaya di NASIB RAKYAT.
Sumber Informasi Gambar: