Sumber Informasi Gambar:
Jalan RE Martadinata Jakarta Utara kerap terendam banjir rob, ini penyebab utama dan faktor lingkungan yang membuat kawasan rawan tergenang.
Jalan RE Martadinata di Jakarta Utara dikenal sebagai salah satu ruas jalan yang paling sering terdampak banjir rob. Hampir setiap tahun, terutama saat pasang air laut tinggi, kawasan ini kembali tergenang dan mengganggu aktivitas warga serta arus lalu lintas.
Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Biang Bencana.
Pengaruh Pasang Air Laut
Salah satu penyebab utama banjir rob di Jalan RE Martadinata adalah pasang air laut yang terjadi secara berkala. Letaknya yang berada di wilayah pesisir Jakarta Utara membuat kawasan ini sangat rentan terhadap kenaikan muka air laut.
Saat air laut pasang, tekanan air dari laut dapat masuk ke daratan melalui saluran air dan celah drainase. Jika ketinggian pasang melebihi permukaan jalan, genangan pun tak terhindarkan.
Fenomena ini semakin terasa ketika terjadi pasang maksimum yang dipengaruhi fase bulan. Pada kondisi tersebut, volume air laut meningkat signifikan dan menyebabkan rob lebih lama surut.
Penurunan Muka Tanah Jakarta Utara
Faktor lain yang tak kalah penting adalah penurunan muka tanah atau land subsidence. Jakarta Utara tercatat sebagai wilayah dengan laju penurunan tanah cukup tinggi akibat eksploitasi air tanah dan beban bangunan.
Penurunan tanah membuat elevasi Jalan RE Martadinata semakin rendah dibandingkan permukaan laut. Akibatnya, air rob lebih mudah masuk dan sulit dialirkan kembali ke laut.
Kondisi ini bersifat jangka panjang dan terus memburuk jika tidak ditangani serius. Tanpa upaya pengendalian, kawasan ini diprediksi akan semakin sering dan parah dilanda banjir rob.
Baca Juga: Operasi Polisi Hancurkan Tambang Emas Ilegal di Jambi, 8 Pelaku Diamankan
Sistem Drainase yang Belum Optimal
Masalah drainase juga menjadi penyebab utama banjir rob yang kerap terjadi. Kapasitas saluran air di sekitar Jalan RE Martadinata dinilai belum mampu menampung volume air yang masuk saat pasang tinggi.
Selain kapasitas yang terbatas, sedimentasi dan sampah kerap menghambat aliran air. Saluran yang tersumbat membuat air rob tertahan lebih lama di permukaan jalan.
Dalam kondisi tertentu, drainase justru menjadi jalur masuknya air laut ke daratan. Hal ini menunjukkan perlunya sistem pengendali air yang lebih terintegrasi dan adaptif terhadap rob.
Dampak Aktivitas Perkotaan dan Tata Ruang
Aktivitas pembangunan di Jakarta Utara turut memperparah risiko banjir rob. Alih fungsi lahan dan minimnya area resapan air menyebabkan air lebih mudah menggenang di permukaan.
Pembangunan kawasan komersial dan industri di sekitar Jalan RE Martadinata juga menambah beban lingkungan. Permukaan tanah yang tertutup beton mengurangi kemampuan tanah menyerap air.
Selain itu, tata ruang yang kurang memperhatikan aspek mitigasi bencana pesisir membuat kawasan ini semakin rentan. Penyesuaian kebijakan tata kota menjadi kebutuhan mendesak untuk mengurangi dampak rob.
Upaya Penanganan dan Harapan ke Depan
Pemerintah daerah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi banjir rob, seperti peninggian jalan, pembangunan tanggul, dan pemasangan pompa air. Namun, hasilnya dinilai belum sepenuhnya efektif.
Penanganan banjir rob membutuhkan pendekatan jangka panjang dan terintegrasi. Pengendalian penurunan tanah, perbaikan drainase, serta perlindungan pesisir menjadi langkah krusial.
Masyarakat berharap solusi permanen dapat segera direalisasikan agar Jalan RE Martadinata tidak lagi menjadi langganan banjir rob. Dengan perencanaan matang dan kolaborasi semua pihak, kawasan ini diharapkan bisa lebih tangguh menghadapi ancaman air laut di masa mendatang.
Jangan lewatkan update berita seputaran Biang Bencana serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
- Gambar Utama dari Kompas megapolitan
- Gambar Kedua dari Liputan6.com