Ini Penyebab Utama Longsor di Cisarua yang Menewaskan Puluhan Warga

Bagikan

Bencana longsor di Cisarua terjadi akibat kombinasi curah hujan sangat tinggi, kondisi tanah labil, serta kerusakan lingkungan di kawasan perbukitan.

Ini Penyebab Utama Longsor di Cisarua yang Menewaskan Puluhan Warga

Hujan deras memicu pergerakan tanah dari lereng perbukitan menuju area permukiman warga. Material berupa tanah, lumpur, bebatuan, serta potongan vegetasi meluncur dengan kecepatan tinggi, menimbun puluhan rumah penduduk.

Banyak warga tidak sempat menyelamatkan diri akibat kejadian berlangsung sangat cepat. Suasana panik meliputi kawasan tersebut, sementara teriakan minta tolong terdengar di tengah gelap malam.

Petugas gabungan segera dikerahkan untuk melakukan evakuasi. Proses pencarian korban berlangsung penuh risiko mengingat kondisi tanah masih labil. Alat berat digunakan untuk mempercepat penggalian timbunan material longsor.

Hingga beberapa hari setelah kejadian, jumlah korban terus bertambah seiring ditemukannya jasad warga di bawah reruntuhan tanah.

Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban serta masyarakat sekitar. Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di .

Faktor Curah Hujan Ekstrem

Salah satu penyebab utama longsor di Cisarua ialah intensitas hujan sangat tinggi. Wilayah pegunungan memiliki karakteristik tanah gembur dengan daya serap air besar.

Saat hujan turun secara terus-menerus, lapisan tanah atas menjadi jenuh air. Kondisi tersebut membuat daya ikat partikel tanah melemah, sehingga lereng kehilangan kestabilan. Akibatnya, tanah mudah bergeser lalu meluncur ke bawah.

Data meteorologi menunjukkan curah hujan di wilayah Bogor meningkat signifikan dalam beberapa hari sebelum kejadian.

Kondisi atmosfer basah memicu pembentukan awan hujan tebal dalam durasi panjang. Air hujan meresap ke dalam tanah hingga mencapai lapisan dalam, mempercepat terjadinya pergerakan massa tanah.

Situasi ini semakin diperparah oleh sistem drainase alami yang kurang optimal pada kawasan lereng curam.

Kerusakan Lingkungan di Kawasan Hulu

Alih fungsi lahan turut berperan besar dalam meningkatkan risiko longsor. Banyak kawasan perbukitan di Cisarua mengalami perubahan fungsi menjadi permukiman, vila, perkebunan intensif, serta fasilitas wisata.

Penebangan vegetasi penahan tanah mengurangi kekuatan akar tanaman dalam menjaga kestabilan lereng. Tanpa perlindungan vegetasi memadai, tanah menjadi lebih rentan terhadap erosi serta pergeseran.

Pembangunan tanpa perencanaan tata ruang matang mempercepat degradasi lingkungan. Struktur bangunan permanen berdiri di atas tanah curam tanpa perkuatan lereng memadai.

Aktivitas penggalian, pemotongan bukit, juga penimbunan tanah sering dilakukan tanpa kajian geologi mendalam.

Akibatnya, keseimbangan alam terganggu secara signifikan, meningkatkan potensi terjadinya bencana tanah longsor.

Baca Juga: 104 Rumah Dan Ponpes Rusak! Tanah Gerak Kembali Hantam Jatinegara Tegal

Upaya Penanganan Pasca Bencana

Upaya Penanganan Pasca Bencana

Setelah bencana terjadi, pemerintah daerah bersama tim nasional melakukan langkah cepat guna mengevakuasi korban serta membuka akses wilayah terdampak.

Tenda darurat, dapur umum, layanan medis, serta dukungan psikologis diberikan kepada warga selamat.

Proses pembersihan material longsor dilakukan secara bertahap mengingat kondisi medan sulit serta cuaca belum sepenuhnya stabil.

Evaluasi tata ruang menjadi agenda penting pasca kejadian. Pemerintah berencana meninjau ulang izin pembangunan di kawasan rawan bencana.

Rehabilitasi lingkungan melalui penanaman vegetasi penahan lereng juga mulai disiapkan.

Edukasi kebencanaan kepada masyarakat lokal diperkuat agar warga lebih waspada terhadap potensi ancaman alam.

Melalui pendekatan terpadu, diharapkan risiko korban jiwa dapat ditekan pada kejadian serupa di masa depan.

Kondisi Geologis Wilayah Cisarua

Wilayah Cisarua terletak pada zona perbukitan dengan formasi tanah vulkanik muda. Struktur tanah jenis ini memiliki porositas tinggi, sehingga mudah menyerap air.

Saat jenuh, daya dukung tanah menurun drastis. Lapisan bawah sering kali berupa lempung licin, menciptakan bidang gelincir alami. Ketika tekanan air meningkat, lapisan atas mudah meluncur mengikuti kemiringan lereng.

Kemiringan lahan curam memperbesar gaya gravitasi yang menarik tanah ke bawah. Dalam kondisi kering, lereng masih relatif stabil.

Namun, saat hujan intens terjadi, keseimbangan tersebut berubah drastis. Kombinasi antara curah hujan tinggi, karakter tanah rapuh, serta topografi ekstrem menjadikan kawasan ini sangat rawan longsor. Tanpa upaya mitigasi berkelanjutan, risiko serupa dapat terus berulang pada masa mendatang.

Terus update dirimu dengan informasi menarik setiap hari, eksklusif dan terpercaya di NASIB RAKYAT.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Pertama dari detik.com
  • Gambar Kedua dari kumparan.com