Sumber Informasi Gambar:
Kebakaran hebat melanda Palangka Raya sepanjang Januari 2026, membakar 50,8 hektare lahan dan menimbulkan kepanikan warga setempat.
Palangka Raya, ibu kota Kalimantan Tengah, kembali dilanda bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masif sejak awal Januari 2026. Cuaca panas ekstrem dan minimnya hujan mengubah lahan gambut rentan terbakar menjadi lautan api. Kondisi darurat ini membutuhkan perhatian serius dari semua pihak.
Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Biang Bencana.
Delapan Titik Karhutla Landa Palangka Raya
Sejak awal Januari hingga 21 Januari 2026, Kota Palangka Raya telah mengalami delapan kejadian karhutla. Total luasan lahan yang hangus terbakar mencapai 50,8 hektare, menunjukkan intensitas kebakaran yang mengkhawatirkan di awal tahun ini.
Balap Sipet, Analis Kebencanaan BPBD Kota Palangka Raya, merinci lokasi-lokasi kejadian. Kebakaran pertama terjadi di Jalan Viktoria seluas 0,33 hektare, disusul Jalan Slamet 0,48 hektare, dan Jalan Petuk Katimpun 0,11 hektare.
Selain itu, karhutla juga melanda Jalan Hiu Putih Ujung 1,61 hektare, Jalan Mahir Mahar Simpang G. Obos 0,33 hektare, Jalan Duar Anyar 0,21 hektare, dan Jalan Hiu Putih Lanjutan 0,04 hektare. Kejadian terbaru, pada 21 Januari, terjadi di Jalan Tjilik Riwut Km 16 dengan luasan 1,97 hektare.
Kondisi Cuaca Pemicu Rentannya Karhutla
Cuaca panas ekstrem yang melanda Palangka Raya sejak pekan kedua Januari 2026 menjadi faktor utama penyebab karhutla. Intensitas hujan yang sangat rendah membuat sebagian besar wilayah yang merupakan lahan gambut menjadi sangat kering dan rentan terbakar.
Balap Sipet menyoroti bahwa dalam sepekan terakhir, Palangka Raya sangat rawan karhutla akibat cuaca panas terik tanpa curah hujan. Kondisi ini diperparah dengan karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar saat kering.
Berdasarkan deteksi dini Pemetaan Risiko Berbasis Analisa Dini (PERISAI) per 21 Januari 2026, kondisi tanah di Palangka Raya menunjukkan tingkat kemudahan terbakar yang sangat tinggi, ditandai dengan zona berwarna merah. Situasi ini memerlukan kewaspadaan dan tindakan pencegahan kolektif.
Baca Juga: Tragedi Longsor Manggarai Timur, Satu Korban Meninggal dan Dua Hilang
Antisipasi Dan Koordinasi Penanggulangan
Menyikapi kondisi tersebut, BPBD Kota Palangka Raya telah melakukan pemantauan intensif dan patroli di kawasan rawan karhutla. Mereka juga berkoordinasi erat dengan aparat kelurahan dan kecamatan untuk memaksimalkan upaya pencegahan.
Koordinasi juga diperluas dengan berbagai organisasi perangkat daerah terkait, seperti Dinas Kehutanan, Manggala Agni, serta relawan. Masyarakat Peduli Api turut dilibatkan untuk memaksimalkan penanganan karhutla di lapangan.
Kerja sama lintas sektor ini bertujuan untuk memastikan respons yang cepat dan terkoordinasi dalam menghadapi setiap insiden kebakaran. Upaya pencegahan menjadi kunci untuk menekan angka dan luasan karhutla di kemudian hari.
Prediksi BMKG Dan Harapan Perbaikan Cuaca
Prakirawan BMKG dari Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut, Neng Arini, memprediksi bahwa selama seminggu ke depan hingga 24 Januari 2026, wilayah Kalteng akan sangat mudah terbakar. Seluruh wilayah Kalteng dipetakan dalam zona merah.
Namun, ada sedikit harapan. Arini mengungkapkan bahwa mulai tanggal 25 hingga 27 Januari, luasan wilayah yang diprediksi sangat mudah terbakar akan berangsur menurun. Ini memberikan sedikit jeda bagi petugas untuk mengendalikan situasi.
Kemudahan terbakar yang sangat tinggi ini disebabkan oleh penurunan curah hujan dan rendahnya tutupan awan. Sistem peta prediksi kemudahan terbakar BMKG dibangun berdasarkan parameter suhu, kelembapan, angin, dan curah hujan yang menjadi penentu utama.
Jangan lewatkan update berita seputaran Biang Bencana serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
- Gambar Utama dari regional.kompas.com
- Gambar Kedua dari mediacenter.palangkaraya.go.id