Tanah bergerak kembali menghantam Jatinegara, Tegal, merusak 104 rumah dan pondok pesantren, langkah pemerintah untuk warga terdampak.
Jatinegara, Tegal Bencana tanah bergerak kembali melanda Jatinegara, Tegal, menyebabkan 104 rumah dan sejumlah pondok pesantren mengalami kerusakan parah. Warga setempat panik dan segera mengungsi ke tempat aman, sementara aparat desa dan BPBD langsung meninjau lokasi untuk evakuasi dan mitigasi awal. Fenomena tanah bergerak ini menjadi perhatian serius karena berulang kali terjadi di kawasan tersebut.
Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya hanya di Biang Bencana.
Kronologi Tanah Bergerak di Jatinegara
Bencana tanah bergerak ini terjadi pada dini hari ketika warga sebagian besar sedang tertidur. Laju tanah yang tidak stabil menyebabkan retakan di jalan, rumah, dan pondok pesantren. Aparat desa pertama kali menerima laporan warga sekitar pukul 03.00 WIB.
BPBD Tegal bersama TNI dan Polri langsung meninjau lokasi. Tim evakuasi melakukan penanganan awal untuk menyelamatkan warga dan memastikan mereka berada di tempat aman. Beberapa rumah mengalami kerusakan berat sehingga tidak bisa dihuni lagi sementara waktu.
Selain itu, tanah bergerak memicu longsoran kecil yang menutupi akses jalan. Hal ini menghambat distribusi bantuan dan memperlambat proses evakuasi. Petugas pun bekerja keras untuk membuka akses dan memastikan warga tetap aman.
Dampak Pada Rumah dan Pondok Pesantren
Sebanyak 104 rumah mengalami kerusakan, mulai dari retakan parah di dinding hingga sebagian atap roboh. Beberapa rumah bahkan tidak bisa ditempati karena rawan ambruk. Warga kehilangan sebagian besar harta benda mereka dan harus menempati posko darurat.
Pondok pesantren yang terdampak juga mengalami kerusakan pada ruang kelas, asrama, dan fasilitas umum. Kegiatan belajar mengajar dihentikan sementara, dan santri dipindahkan ke tempat aman. Kepala pondok pesantren menyatakan kekhawatiran akan kelangsungan pendidikan dan keselamatan santri.
Selain kerusakan fisik, bencana ini berdampak psikologis. Warga mengalami trauma dan ketakutan karena tanah bergerak bisa terjadi kapan saja, sehingga mereka meminta adanya mitigasi risiko yang lebih matang dari pemerintah.
Baca Juga: DLHK Jateng Sebut Bencana di Gunung Slamet Gegara Alih Fungsi Lahan
Upaya Evakuasi dan Bantuan Darurat
Evakuasi dilakukan secara cepat dengan melibatkan BPBD, TNI, Polri, dan relawan setempat. Warga terdampak dipindahkan ke posko sementara yang telah disiapkan di wilayah aman. Tim medis juga hadir untuk memberikan pertolongan pertama bagi warga yang mengalami luka ringan.
Bantuan logistik, termasuk makanan, air bersih, dan selimut, mulai didistribusikan ke posko pengungsian. Pemerintah daerah berjanji akan menambah bantuan, termasuk tenda darurat dan peralatan sanitasi.
Selain itu, aparat desa melakukan pendataan rumah dan fasilitas yang rusak untuk mempermudah koordinasi dengan pemerintah pusat dalam penyaluran bantuan lebih lanjut. Langkah-langkah mitigasi sementara juga diterapkan untuk mencegah tanah bergerak tambahan.
Reaksi Pemerintah dan Masyarakat
Pemerintah Kabupaten Tegal menyatakan keprihatinan atas bencana ini dan menegaskan komitmen untuk menangani warga terdampak. Bupati meninjau langsung lokasi dan meminta aparat desa bekerja cepat untuk memastikan keselamatan warga.
Masyarakat pun tergerak untuk membantu sesama warga, termasuk menyediakan makanan, pakaian, dan tempat pengungsian tambahan. Solidaritas lokal menjadi kunci dalam menangani dampak bencana.
Selain itu, pemerintah daerah mulai merencanakan mitigasi jangka panjang, seperti pemetaan tanah rawan, peringatan dini, dan sosialisasi kepada warga agar lebih siap menghadapi bencana di masa depan.
Mitigasi dan Langkah Pencegahan Bencana
BPBD Tegal menekankan pentingnya pemetaan risiko dan penanaman pohon di area rawan tanah bergerak untuk mengurangi dampak bencana. Selain itu, pembangunan infrastruktur penahan tanah sedang direncanakan untuk mencegah longsoran lebih lanjut.
Edukasi warga tentang tanda-tanda tanah bergerak juga digencarkan, termasuk cara cepat mengevakuasi diri dan menjaga keselamatan keluarga. Posko darurat dan jalur evakuasi akan disiapkan di titik-titik rawan.
Langkah pencegahan ini diharapkan mampu meminimalisir kerugian, baik materi maupun korban jiwa, sehingga warga dapat merasa lebih aman meski bencana alam tidak bisa sepenuhnya dihindari.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detikcom
- Gambar Kedua dari detikcom