Tanah bergerak akibat aktivitas alat berat tambang di Morowali, 288 warga terpaksa mengungsi demi keselamatan mereka.
Bencana tanah bergerak melanda Morowali setelah aktivitas alat berat tambang memicu pergeseran tanah. Ratusan warga kini mengungsi, meninggalkan rumah demi keselamatan.
Dampak Biang Bencana ini menimbulkan kepanikan dan kekhawatiran di tengah masyarakat, menunjukkan risiko pertambangan yang belum sepenuhnya terkontrol.
Tanah Bergerak Melanda Desa Fatufia, Morowali
Peristiwa tanah bergerak mengguncang Desa Fatufia, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Bencana ini terjadi pada Rabu dini hari (28/1) sekitar pukul 03.00 Wita, menyebabkan kepanikan warga di permukiman sekitar.
Ratusan warga terpaksa meninggalkan rumahnya karena pergerakan tanah yang merusak kosan dan fasilitas umum. Data terakhir dari BPBD Sulteng menyebutkan total 288 warga mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Selain rumah dan kosan, satu masjid di desa ini juga terdampak, menunjukkan skala perusakan yang cukup besar. Meski begitu, kabar baiknya tidak ada korban jiwa dari peristiwa ini.
Aktivitas Tambang Diduga Jadi Pemicu
BPBD Sulteng menduga pergeseran tanah ini dipicu aktivitas alat berat di area tambang sekitar desa. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Andi Sembiring, menjelaskan bahwa lima unit ekskavator sedang melakukan loading di lokasi tambang saat tanah mulai bergeser.
Getaran yang ditimbulkan alat berat tersebut memicu pergerakan tanah hingga mencapai permukiman warga. Warga yang tengah tertidur mendadak terbangun dan panik akibat getaran dan retakan tanah di sekitar rumah mereka.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana aktivitas pertambangan, jika tidak dikelola dengan cermat, dapat langsung berdampak pada keselamatan masyarakat di sekitarnya. Pemerintah daerah pun terus memantau situasi demi menghindari kerugian lebih lanjut.
Baca Juga: Sering Dilanda Bencana, Ini Fakta Penyebab Banjir dan Longsor di Slamet
Dampak Kerusakan Dan Evakuasi Warga
Dampak dari pergeseran tanah ini cukup signifikan. Sebanyak 94 kamar kos dan satu masjid mengalami kerusakan, sementara warga mengungsi membawa barang-barang penting ke lokasi yang lebih aman. BPBD dan instansi terkait turun tangan untuk membantu proses evakuasi.
Selain hunian sementara, warga pengungsi juga membutuhkan logistik darurat seperti makanan, air bersih, dan selimut. Petugas terus mendata kebutuhan mendesak agar bantuan dapat segera tersalurkan.
Warga diminta tetap berada di lokasi pengungsian demi keselamatan. Andi Sembiring menekankan bahwa tanah di desa ini masih bergerak perlahan, sehingga risiko longsor susulan belum sepenuhnya hilang.
Upaya Pemerintah Dan Imbauan Keselamatan
BPBD Sulteng bekerja sama dengan instansi terkait menyiapkan rencana mitigasi jangka pendek. Salah satunya adalah memperkuat lokasi pengungsian dan mengawasi titik-titik rawan pergeseran tanah.
Pihak berwenang juga menghimbau warga untuk tidak kembali ke rumah sebelum situasi benar-benar aman. Selain itu, pihak perusahaan tambang diimbau meninjau kembali operasi alat berat mereka agar tidak menimbulkan kerusakan lebih lanjut.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kehati-hatian dalam aktivitas pertambangan di dekat permukiman. Keselamatan warga tetap menjadi prioritas utama, sementara evakuasi dan bantuan darurat terus dilakukan secara maksimal.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari radarpalu.jawapos.com