Sering Dilanda Bencana, Ini Fakta Penyebab Banjir dan Longsor di Slamet

Bagikan

Tak hanya curah hujan, berbagai faktor seperti alih fungsi lahan, kerusakan DAS, dan aktivitas manusia menjadi penyebab utama.

Ini Fakta Penyebab Banjir dan Longsor di Slamet

Banjir dan tanah longsor yang kerap melanda kawasan lereng Gunung Slamet kembali menjadi perhatian publik. Setiap musim hujan, sejumlah desa di wilayah tersebut harus bersiap menghadapi risiko bencana yang mengancam keselamatan warga serta merusak infrastruktur. Selama ini, curah hujan tinggi sering disebut sebagai penyebab utama terjadinya bencana tersebut.

Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya hanya di .

Kondisi Geografis Lereng Slamet

Gunung Slamet merupakan gunung berapi tertinggi di Jawa Tengah dengan wilayah lereng yang luas dan beragam. Topografi yang curam dan berbukit membuat kawasan ini secara alami rentan terhadap pergerakan tanah, terutama saat musim hujan tiba.

Struktur tanah di lereng Slamet didominasi oleh material vulkanik yang relatif gembur. Ketika tanah jenuh oleh air hujan, daya ikat antarpartikel melemah sehingga mudah terjadi longsor. Kondisi ini semakin berbahaya di daerah dengan kemiringan lereng yang tinggi.

Selain itu, banyak permukiman dan lahan pertanian berada di zona rawan bencana. Pemanfaatan ruang di kawasan lereng yang tidak diimbangi dengan perencanaan matang turut meningkatkan risiko banjir dan longsor di wilayah ini.

Alih Fungsi Lahan Yang Tak Terkendali

Salah satu penyebab utama banjir dan longsor di lereng Slamet adalah alih fungsi lahan yang masif. Kawasan hutan yang seharusnya menjadi penyangga ekosistem berubah menjadi lahan pertanian, permukiman, bahkan area komersial.

Penggundulan hutan menghilangkan peran vegetasi dalam menyerap air hujan dan menahan tanah. Akar pohon yang sebelumnya berfungsi sebagai pengikat tanah tidak lagi mampu mencegah erosi, sehingga limpasan air meningkat dan membawa material tanah ke wilayah hilir.

Alih fungsi lahan yang tidak terkendali ini sering kali dilakukan tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan. Akibatnya, bencana yang sebelumnya jarang terjadi kini menjadi lebih sering dan berdampak luas.

Baca Juga: Warga Siaga: Pentingnya Sistem Peringatan Dini Bencana Berbasis Komunitas

Kerusakan Daerah Aliran Sungai

Kerusakan Daerah Aliran Sungai

Kerusakan daerah aliran sungai (DAS) di sekitar lereng Slamet juga berkontribusi besar terhadap terjadinya banjir. Pendangkalan sungai akibat sedimentasi membuat kapasitas tampung air berkurang secara signifikan.

Saat hujan deras, air sungai meluap karena tidak mampu menampung debit yang meningkat. Limpasan air ini kemudian menggenangi permukiman warga dan lahan pertanian di wilayah hilir.

Selain sedimentasi, sampah dan bangunan liar di sepanjang sungai memperparah kondisi DAS. Kurangnya kesadaran akan pentingnya menjaga sungai sebagai ekosistem alami menjadikan banjir semakin sulit dihindari.

Minimnya Sistem Drainase dan Konservasi

Di beberapa wilayah lereng Slamet, sistem drainase belum memadai untuk menampung dan mengalirkan air hujan dengan baik. Saluran air yang sempit atau rusak menyebabkan air menggenang dan mempercepat terjadinya erosi.

Upaya konservasi tanah dan air juga masih minim. Terasering yang tidak sesuai standar, penggunaan tanaman semusim di lahan miring, serta kurangnya tanaman penutup tanah membuat permukaan tanah mudah tergerus air hujan.

Tanpa sistem drainase dan konservasi yang baik, curah hujan yang tinggi akan selalu berujung pada bencana. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan teknis dan pengelolaan lingkungan sama pentingnya dengan faktor alam.

Peran Manusia Dalam Memperparah Risiko

Aktivitas manusia di kawasan lereng Slamet menjadi faktor penentu dalam meningkatnya risiko banjir dan longsor. Penebangan liar, penambangan ilegal, serta pembangunan tanpa kajian lingkungan mempercepat degradasi alam.

Kurangnya penegakan aturan tata ruang membuat kawasan rawan bencana terus dieksploitasi. Pembangunan di lereng curam dilakukan tanpa mitigasi yang memadai, sehingga potensi bahaya semakin besar.

Kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan menjadi kunci utama pencegahan bencana. Tanpa perubahan perilaku dan pengelolaan wilayah yang bijak, banjir dan longsor di lereng Slamet akan terus berulang.

Jangan lewatkan update berita seputaran Biang Bencana serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.


Sumber Informasi Gambar:

  1. Gambar Pertama dari detikNews
  2. Gambar Kedua dari VIVA Jateng